Revolution
Terbangun dari Mimpi
Jumat, 04 Juli 2014 09.27

"udah nyerah gitu aja?"
"aku nggak bakal beridiri di sampingmu kaya gini kalo aku nyerah" (logat bahasa jawa)
"..................."
keadaan waktu itu hening seketika. Tatapan mata kami menghentikan perdebatan itu. Berkali-kali aku melontarkan 4 kata itu, dan berkali-kali pula kamu membalasnya seperti itu.

2014.
Tahun yang penuh makna bagi aku.
Bulan Juni kemarin, bulan yang benar-benar membangunkan dari mimpi-mimpi yang aku alamin. Detik itu juga, aku masih belum menyangka. Aku masih ragu untuk mempercayainya. Begitu cepat rasanya. Aku berusaha untuk berpikir dan bertindak dewasa.

Saat itu, waktu sedikit apapun sangat berharga buat kami untuk saling kontak sama lain. Syukur-syukur, bisa bertatap muka/ketemuan juga udah Alhamdulillah banget. Ya, dia yang sedang memiliki amanah besar dan tanggung jawab yang cukup berat sehingga waktu buat saya berkurang. Aku berharap waktu untuk Allah tetap utuh. Kami berdua menyadarinya, dia selalu merinci kesibukan tiap harinya kepadaku, dan aku selalu mendukungnya. Apapun itu, aku berusaha untuk memakluminya. Sampai-sampai kami berdua menahan rasa rindu yang mendalam, terutama untuk aku pribadi.
Seseringkali dia mengajak saya untuk bertemu guna menghilangkan rasa rindu tsb namun waktunya kurang tepat untukku.
Sehingga seseringkali kali pula dia berkata,  "Hidupku ini cuma buat orang lain. Nggak bisa buat kebahagiaanku sendiri" (logat bahasa jawa). Aku yang mengetahuinya pun cukup membuat mengelus dada rasa kasihan terhadapnya. Dia cukup lelah, aku tahu itu.

Yasudahlah, tetap jalani hidup apapun itu rintangannya, aku percaya dia dapat melewati itu semua. Dia tahu apa yang aku rasa, akupun cukup tau apa yang dia rasa, kami berdua dari dulu hingga saat itu masih selalu percaya dengan kata-kata "Semua akan indah pada waktunya". Toh kita yang menjalankan berdua, kita yang merasakan pahit untuk melaluinya, dan semua akan terbayar dengan akan indah pada waktunya.
Hal itu yang membuat kita kuat. Entah itu semacam sugesti atau tidak.

Ternyata pada suatu hari kamu terjebak melakukan suatu hal yang membuatku cukup cemburu karna kamu berulangkali melakukan hal yang tidak wajar. Tidak wajar. Sekali lagi tidak wajar. Berulang kali aku mengutarakannya, tapi hahhh entahlah. Sampai berujung seperti ini.

Tidak. Aku tidak ingin terus kaya gini. Terjebak dalam suatu momen yang membuatku diam. Aku harus bergerak, bergerak, bergerak kemana aja asal itu jalan yang positif.

Hargailah keputusannya seperti dia menghargai keputusanmu



OLDERNEWER